Jumat, 26 September 2014

Secangkir Cappuccino Latte



Ketika sedang asiknya membaca novelku , secangkir Cappuccino latte kesukaanku dihidangkan didepanku oleh seorang laki – laki tinggi putih dengan mengenakan seragam khas dari café ini , setelah menghidangkan pesananku ia juga meletakan secangkir lemon tea lalu ia duduk di bangku yang ada didepanku .

“Tumben sendirian ? Bukannya baru jadian ? Kenapa dia enggak diajak kesini ? ” Ia bertanya sambil mengaduk lemon tea yang tadi ia bawa .

“Eggak …, dia lagi acara keluarga di bandung emang kenapa ndri ? kamu naksir sama dia? ” Tanyaku sambil sedikit tertawa .

“Enggaklah , aku masih normal dan suka cewek yee…,” Jawabnya sambil ikut tertawa kecil.

Nama laki – laki ini Andri , ia temanku dari kecil bisa dibilang kami sangat dekat dalam segala hal . ia kerja paruh waktu di café ini untuk membantu ekonomi kekauarganya karena ia hanya tinggal hidup berdua dengan kakaknya , ia orang yang sangat pendiam tapi sebenarnya ia sangat ramah dan orang yang sangat peduli dengan orang yang sudah akrab dengan dia . Sebenarnya aku memendam suka pada Andri tapi aku selalu takut untuk mengungkapkan kalau aku menyukainya , karena aku takut hal itu malah merusak persahabatan kami .

“Ohh yahh Dina , aku dapet beasiswa kuliah di jepang loh.” Ujarnya dengan sangat bersemangat .

“Wahh …, bagus donk kamu bisa ngelanjutin kuliah sambil kerja disana , ke jepang kan juga impianmu dari dulukan ?” Tanyaku .

“Iya bener , itu emang impian aku dari dulu tapi , ada yang masih mengaggu pikiranku kalau aku benar akan berangkat ke jepang.” Ucapnya dengan wajah sedikit murung .

“Kenapa ? apa kau khawatir sama kakakmu ?” Tanyaku penasaran .

“Bukan , bukan itu kakak aku malah mendukung kalau aku pergi ke jepang , dia malah senang banget kayaknya soalnya gak bakal ada yang ngambil jatah nasinya , hahaha …,” Jawabnya sambil tertawa , tapi aku bisa melihat sebuah kekhawatiran diwajahnya yang ia tutupi dengan tawanya .

“Terus kalau bukan kakakmu , apa yang ngeganjal pikiranmu ?” Tanyaku lagi .

“Apa kamu gak bakal kesepian kalau aku pergi ? ” Dia malah berbalik bertanya , bertanya dengan pertanyaan yang sebenarnya juga membuatku ragu untuk menjawabnya .

“Pasti bakalan sepi lah ..., nanti enggak ada lagi yang bikinin cappuccino latte kesukaan aku lagi di café ini , cappuccino latte buatanmu kan yang paling enak . ” Jawabku sedikit bercanda dan kulihat ia hanya tersenyum .

“.......” Ia masih terdiam dan hanya memandangiku .

“Lagian aku juga bukan siapa – siapa kamu yang bisa ngelarang kamu buat pergi , lagian akukan sahabatmu dari kecil masa sih ..., aku mau menghalangi sahabatku untuk menggapai apa yang jadi impiannya .” Ujarku sambil menatap matanya .

“Ahh udah – udah ..., ngomongnya jadi kayak gini ..., aku bisa berat nih perginya , ohhh iyaa aku ada hadiah nih buat kau bentar yaa...,” Dia langsung berdiri dari bangkunya dan pergi ke dapur .

Dia kembali dengan sebuah buku yang cukup tebal di tangannya , ia duduk lagi di bangkunya .

“Aku punya tantangan buat kamu , bisa gak kamu baca novel setebal ini dalam 1 minggu.” Ucapnya sambil menyodorkan novel yang tadi ia bawa.

“Kalau aku bisa aku dapet apa ? ” Tanyaku .

“Aku traktir kamu buat minum Cappuccino latte kesukaanmu .” Ujarnya dengan nada yang meyakinkan.

“OK ...,cuma seminggu doank gak masalah .” Ujarku menyanggupi tantangannya .

Setelah aku menyanggupi tantangannya aku langsung pulang karena ibuku menelponku karena ibuku minta diantar ke tanah abang untuk membeli pakaian untuk hadiah ulang tahun keponakanku .

Hampir seminggu berlalu sejak aku menerima tantangan dari Andri , novel yang ia berikan benar – benar sangat menarik . Novel itu bercerita tentang jatuh bangunnya Hadi sang tokoh utama yang sangat mencintai sahabatnya Nicky , tapi ia takut jika ia mengungkapkan perasaannnya itu malah membuat Nicky menjadi ragu untuk meraih impiannya

“Kebahagiaan kita mungkin bukan saat kita bersanding bersama , tapi mungkin saat kita saling melihat bahwa kita sama – sama mencapai kebahagiaan dan impian kita masing – masih bersama yang lain .”

Kalimat itu merupakan kutipan yang sangat menyentuh dari novel itu , kira – kira apa maksudnya Andri menghadiahkan novel ini untukku.

Sudah seminggu aku selesai membaca novel ini , dan di halaman terakhir ada secarik kertas dengan sebuah tulisan “My Last Word.” , dengan cepat aku segera mengambil kertas itu dan membacanya .


Dear Dina

Selamat kalau kamu bisa menyelesaikan tantangan dariku , tapi kalau tidak bisa berarti kamu enggak akan dapet traktiran yang aku janjikan .

Sebenarnya bukan cuma itu yang mau aku beri tahu kepadamu , sebenarnya ini akan jadi surat terakhir yang akan kamu baca dariku , sebenarnya saat aku bilang aku dapat beasiswa ke jepang itu semua Cuma bohong karena aku enggak mau bikin kamu khawatir kalau aku benar –benar pergi . untuk selamanya karena penyakit ini .

 Kamu tahu alasan  kenapa aku memberikan novel ini padamu , kalau kau sudah selesai membaca novel itu kau pasti sudah tahu kalau Hadi tokoh utama novel itu harus mengalawan egonya untuk memiliki Nicky agar Nicky bisa menggapai impiannya.

Mungkin cerita itu sedikit mirip dengan apa yang sedang aku rasakan saat ini , karena aku sudah menyerah pada egoku untuk memilikimu lebih dari seorang sahabat . Dina aku mencintaimu . Perasaan ini selalu kupendam karena aku takut itu malah akan merusak hubungan persahabatan kita .

Aku hanya ingin mengungkapkan semua itu , karena ini adalah kata – kata terakhir yang akan aku ungkapkan padamu , karena hidupku mungkin sudah tak lama lagi karena penyakit ini.

Kau tahu kalau aku bukan orang yang pandai berkata – kata , tapi kata – kata ini datang dari lubuk hatiku yang paling dalam

“   Terima kasih kau sudah menjadi matahari yang menerangi setiap hari dalam hidupku

Terima kasih kau sudah menjadi pelangi yang selalu membuat hariku menjadi berwarna

Walaupun aku tak akan bisa memelukmu lagi , memandang wajahmu lagi ,

Aku akan tetap selamanya berada di hatimu

I Love You , today , tomorrow , and always


From Your Beloved Best Friend ,



Andri.


Tanpa sadar air mataku menetes , aku sadar sesuatu yang seharusnya aku ungkapkan sejak lama , perasaan ini...,

aku segera berlari keluar dari rumah dan menuju ke café tempat Andri bekerja .

Saat sampai disana keadaannya sedang sepi , aku segera menemui pemilik café itu yang sedang berada di meja kasir . Saat ia melihatku ia hanya tersenyum dan memberikanku secangkir Cappuccino latte dan sebuah surat , Aku segera membaca surat itu . pemilik café itu bilang kalau Andri sudah tidak masuk sejak lima yang lalu dan ia hanya menitipkan surat ini  .

Aku segera berlari menuju rumah Andri setelah mendengar itu , sambil terus berusaha melepon handphone Andri , namun tak ada respon apapun .

Saat aku sampai dirumah Andri , aku bertemu dengan Kak Indra kakanya Andri , ia menangis melihatku , ia tak berkata apapun dan hanya memberikan secarik kertas yang tertulis sebuah alamat di sana , aku langsung pergi ke alamat itu karena Kak Indra tak mau berkata apapun .

Saat aku sampai di alamat yang tertera di kertas itu , aku hanya bisa terus menahan tangisku sambil menyusuri tempat itu akhirnya aku terhenti pada satu makam yang masih sangat baru dibandingkan  dengan makam - makam yang lain .

Air mataku sudah tak bisa lagi di bendung saat aku melihat nama Andri tertulis di nisan yang menancap di makam itu , aku hanya bisa meratapi perasaan yang tak pernah bisa tersampaikan ini perasaan yang seharusnya aku ungkapkan sejak lama , kalau aku , aku mencintai Andri . Aku hanya bisa menatap sebuah surat Andri yang di berikan pemilik café tadi .

“Ini Cappuccino latte yang aku janjikan  .

Nikmatilah .”