Sabtu, 23 Agustus 2014

Mereka Yang Berjalan Diantara Kita Ch3


  • Chapter 3 : first action 


apa yang akan kulakukan setelah mendengar april berteriak seperti itu , aku ingin kesana tapi aku hanya terdiam dan bingung , terlintas dipikiranku kata-kata april

"... hidup itu penuh dengan pilihan"

apa ini pilihanku hanya terdiam disini sedangkan april mungkin sedang bertarung disana , apa ini yang aku pilih menghindari masalah ,

"...aku lebih menyukai disini dari pada melakukan sesuatu atau pergi ketempat yang tidak kusuka"

aku teringat kata-kata perempuan mahluk penunggu kelasku tadi pagi

"sial....!!"

aku berlari menuju arah april tadi pergi , kulihat april disana terlihat sangat kelelahan dan disana ada banyak sekali perempuan kira-kira ada sekitar 60 orang , mereka semua diselimuti oleh aura hitam

"april kau tidak apa-apa , ada apa dengan perempuan-perempuan ini"

"mereka semua dikendalikan oleh orang disana "

april menunjuk seseorang yang sedang duduk dibangku taman dikelilingi oleh beberapa wanita dikanan kirinya dan ada satu yang duduk dipangkuannya , sepertinya mereka sedang berciuman

"ayoo ladies , bereskan mereka jika kalian ingin bermesraan juga denganku hahaha"

suara itu , apa mungkin dia tapi bagaimana bisa , tidak aku tidak boleh berpikir buruk dulu aku harus memastikannya

"exorsist : curse cutter"

katana april diselimuti asap putih dan membuat pedangnya menjadi putih terang , lalu april mulai menebas perempuan-perempuan itu tapi menembus mereka tanpa membuat mereka terluka sedikit pun , tapi setelah ditebas aura hitam yang menyelimuti perempuan itu menghilang lalu perempuan itu jatuh tak sadarkan diri

tiba-tiba kau ditendang diperut oleh seorang perempuan dan kulihat didepanku ada beberapa perempuan yang siap melawan ku , untung aku lumayan menguasai kendo dan pernah belajar karate , jadi dengan gerakan-gerakanya aku mudah menghindari serangan-serangan para wanita itu

"hyaaa ... !!"

seorang perempuan melompat ingin menendangku dan tepat mengenai wajahku hingga aku tersungkur aku jatuh dan kulihat ada perempuan lagi yang ingin menginjakku tapi untung aku langsung berguling kesamping dan langsung berdiri

"sial kalau saja aku punya senjata seperti april aku pasti akan lebih mudah menyerang"

aku mengepalkan tangan kiriku dan berubah seperti waktu itu , kau mengarahkan tangan ku kepada perempuan-perempuan itu , semoga bisa seperti waktu itu , dan berhasil seperti waktu itu perempuan-perempuan itu tidak bisa bergerak

"bagus. . . !!"

april dengan cepat berlari kearah lima perempuan yang tidak bisa bergerak didepanku dan dengan cepat menebasnya

"bagus tetap seperti ini kau buat mereka tidak bergerak , lalu akan kuselesaikan mereka "

"ok , ayo"

kami terus menggunakan taktik itu sampai semua perempuan-perempuan itu terbebas dari aura hitam yang menyelimutnya , dan hanya tersisa enam perempuan yang sedang bermesraan dengan orang dibangku itu

"kalian ini , sangat menggangu yaa"

ternyata benar suara itu memang suara yang ku kenal dan itu memang ..

"dimas , apa yang kamu lakukan sampai perempuan-perempuan itu begini ?"

"aku hanya ingin menikmati waktuku bersama para perempuan ini jadi jangan kalian ganggu kami sdasar pengganggu"

nada bicara nya , seperti bukan dimas yang kukenal , nada bicaranya jauh berbeda orang didepanku ini seperti orang lain

"ricky ,dimas terkena "kutukan dosa" kutukan dari sifat manusia yang memberikannya kekuatan untuk melakukan hal yang dia inginkan , tapi itu bisa menghisap roh orang yang menggunakanya"

"dengar kan apa yang dikatakan april tadi dimas , itu akan menghisap roh mu"

"diaaamm,kalian tidak mengeti apa-apa , kalian tidak mengerti hal yang aku rasakan"

perempuan yang tadi duduk bersama dimas , semua nya lagsung berdiri dan menyerang kami mereka berbeda dari perempuan-perempuan sebelumnya aura hitam yang menyelimutinya lebih besar , dan pedang april tidak bisa menembus aura hitam itu

"ricky,sadarkan dimas secepatnya,hanya itu yang bisa dilakukan untuk mengehilangkan kutukan itu"

aku langsung berlari menghindari perempuan-perempuan yang ingin menyerang ku dan menuju tempat dimas duduk kutarik , kerah bajunya hingga mata kami saling bertemu , mata dimas yang sekarang bukan dimas yang aku kenal yang selalu ceria dan penuh warna dihidupnya , tapi yang ini terlihat seperti mata hitam yang hanya ada kegelapan disana tanpa cahaya yang menerangi hidupnya

"kenapa kau begini , ini bukan dirimu , ini buka dimas yang aku kenal mana wajah ceria dan senyum itu"

"diam .... kau tidak mengerti apa-apa tentang diriku "

aura hitam yang menyelimuti dimas langsung membesar dan juga ikut menyelimutiku , didalam sini aku bisa merasakan rasa sedih ,kesepian ,penderitaan menjadi satu ,serasa seperti gambaran dari perasaan dimas

kulihat wajah dimas menjadi pucat ,dan mata nya semua putih

"ricky , dia sudah mencapai batasnya jika dia tidak "dibersihkan" sekarang dia tidak akan bisa selamat gunakan ini !!"

april melempar pedangnya pada ku ,karena dia terhalang oleh para perempuan itu ,pedang itu berputar diudara menuju kearaku tapi terjatuh cukup jauh dari tempatku

"dasar lemparanmu payah masih sangat jauh"

"itu lemparan terbaiku tau huhh !!"

aku sedikit kesal dengan lemparan april yang payah itu tapi bagaimana lagi , aku ingin mencoba mengambil pedang itu tapi aku tidak bisa keluar dari pusaran aura hitam ini ,

"jika kau ingin pedang kau juga memilikinya"

terdengar suara lembut seperti suara perempuan tapi itu bukan suara april , itu berasal dari pikiranku tiba-tiba terbayang olehku seorang perempuan bergaun hitam , menjulurkan tangannya kepadaku

"kau butuh kekuatan bukan untuk menolong temanmu ?"

dia tersenyum kecil kepadaku dan masih menjulurkan tangannya kepadaku

"ayo , raihlah"

saat kuraih dan aku membuka mataku ditangan kanan ku sudah kugenggam pedang hitam , setengah dari pedang itu terdapat motif garis bercabang seperti ditangan kiriku , tapi ini datang dari mana , ah sudahlah tidak ada waktu untuk berpikir yang lain , kata apa yang diucapkan oleh april tadi ohh yaa

"exorsist : curse cutter"

pedang hitamku beraura putih dan dengan motifnya yang menyala biru , aku langsung mengarahkan pedangku ke arah dada dimas , saat aku ingin menusuknya aura hitam disekitar dimas berusaha menolak , aura hitamnya bertabrakan dengan aura putih pedangku dan membuat pedang ku seperti batu yang menghalangi aliran air ,

akhirnya pedangku menusuk dada dimas , dan tubuh dimas bergejolak sangat hebat , lalu semuanya putih

putih

putih

putih

dan aku ada disebuah tempat yang luas , dibawahku ada air tapi aku tidak jatuh kedalamnya kulihat dimas ada dibagian yang seluruh wilayahnya sedang hujan aku dekati dia tapi tidak masuk kedalam wilayah yang hujan itu

"yoo dimas-chan , disini sangat sepi yaa ?? bukankah kau tidak suka tempat yang sepi ??"

"ini sepertinya ada didalam hati ku yang sepi , walaupun aku berada di tempat yang sedang ramai hati ku ini masih tetap sepi"

"lalu ?"

"ya , tidak seperti kau yang selalu ada shinta , aku hanya sendirian dan masih tetap sendirian aku selalu terlihat ceria agar aku tidak merasa kesepian ,karena tidak ada yang bisa mengisi kesepian didalam hatiku ini ,walaupun ada 1000 wanita ada didalam pelukakanku tetap tak akan ada yang bisa mengisi hati ku "

langsung kudekati dia dan kurangkul dia lalu dalam sekejab seluruh wilayah yang tadi hujan menjadi cerah ,

"jika kau merasa kesepian , bilang saja pada ku mungkin aku bisa mengenalkanmu kepada beberapa perempuan cantik yang aku kenal dan mungkin kau bisa jatuh cinta nantinya"

"kau ini kan tidak punya teman lagi selain aku , dan shinta hahaha ... , yahh memang kau yang paling mengerti aku ,ricky kau memang teman terbaikku"

dia akhirnya tersenyum kembali , dan itulah wajah dimas yang aku kenal , lalu aku membuka mataku aku sedang duduk dibanku taman , dan kulihat april sedang memangku kepala dimas sepertinya dia sedang melakukan semacam penyembuhan

"ricky kau sudah bangun , ohh yaa terima kasih atas bantuannya aku tidak tau bagaimana jika tidak ada kamu dan aku ingin bertanya kenapa kamu membantuku ? bukankah tadi kau sangat tidak mau membantuku ?"

"aku hanya menjalankan nasihat , seseorang untuk melakukan sesuatu yang aku suka , lagi pula aku tidak suka melihat orang kesulitan karena diriku , jadi aku lebih suka untuk membantunya"

april hanya tersenyum kecil , dan kulihat sepertinya dimas mulai sadar dan membuka matanya , karena kepalanya ada dipangkuan april saat bangun mata dimas langsung bertatapan dengan mata april dan kulihat matanya tidak bisa berkedip dari wajah april

"ricky , apa aku sekarang ada disurga ?"

"ehh , kenapa ?"

"karena aku sedang melihat seorang malaikat didepan mataku"

dia langsung memegang tangan april setelah berbicara seperti itu , wajah april langsung berubah merah mungkin karena malu dipuji sebagai malaikat

"kau ini bicara apa sihh "

april mendorong dimas dari pangkuannya dan jatuh dari bangku taman itu , tapi dimas langsung berdiri dan berlutut sambil memegang tangan april

"ricky , kau jadi lah saksi ku , mulai sekarang aku tidak akan menjadi seorang playboy lagi aku sudah menemukan malaikat yang akan mengisi hatiku sebuha cinta yang tidak akan membuat hati ku sepi lagi mungkinkah ini yang disubut cinta pada pandangan pertama "

april seperti sedang salah tingkah , dan wajahnya yang memerah membuat wajahnya terlihat sangat imut dan malam ini sepertinya adalah malam yang cukup melelahkan , jadi aku langsung meninggalkan dua manusia ini membiarkan mereka merajut tali kasih  , dan langsung pulang

setelah pulang dan memarkirkan motorku dibagasi , aku langsung menuju kamarku untuk berganti pakaian, mandi, dan dilanjutkan hal-hal lainnya ,saat kulewat ruang tamu ibuku sedang menelepon seseorang wajahnya kelihatan sangat senang entah kenapa , aku tidak terlalu memperdulikannya karena ibu memang
orang yang selalu ceria , aku langsung menuju dapur dan mengambil makan lalu ibu mendatangiku sambil tersenyum

"ricky besok akan menjadi hari yang special , karena besok akan ada orang special yang akan datang"

aku hanya diam saja tidak menjawab dan terus memakan makanan ku , jadi kira-kira siapa yang akan datang kerumah apa ..

dia..

dia..

atau dia..

atau ..

ayah ???

Tidak ada komentar:

Posting Komentar